22 Maret 2016

Kita Hanyalah Pendusta yang Memaksa Percaya pada Tuhan

Beberapa hari ini wall facebook saya dipenuhi dengan instruksi pengulangan syahadat. “Jika nonton film Uttaran, maka syahadat anda mesti diulang”. Hahahanciang. Bukan karena postingan ini santer disebarkan oleh media yang ada Islam-Islamnya. Bukan juga karena saya pro terhadap Uttaran, nengoknya saja saya malas. Namun, ini soal Iman yang telah dipahami secara pandir.  

Saya kira, kita sudah cukup lelah dengan isu Ahok. Karena Ahok, tiba-tiba banyak saja orang yang beriman. Maksud saya, isu politis harus dikaitkan dengan Iman. 
Begini loh mas bro! Waktu boker  tadi pagi, saya mikir. –Ini memang kebiasaan saya- mikir di “kamar bermenung”. Kali ini perenungan saya membuahkan hasil, gak kayak biasanya. Mulai dari latar belakang, rumusan masalah, pendekatan dan kesimpulan soal iman dan hal di luar iman. Jangan bayangkan berapa lama saya di sana. Kita fokus saja kepada kesimpulan.

Jika saja keimanan selalu dikaitkan dengan segala hal, maka tunggulah kehancuran! “Fantazhir al-sa’ah”! Menghancurkan diri sendiri, dan ketika diposting di media sosial berarti ikut menghancurkan orang lain. Mengapa? Jawabannya sih sesederhana buang dahak. Menyebarkan Kebebalan.

Sebab, keimanan bukanlah kambing hitam. Keimanan adalah keyakinan bukan keragu- raguan. Masa sih, baru nonton film aja, tuan dan puan sudah ragu dengan keimanan sendiri? Baru liat Ahok aja yang kebayang langsung “ka-fa-ra-“ di kening Dajjal. Piye to?  

Bukan, saya bukan mengatakan bahwa “keimanan” adalah variabel yang mesti dikesampingkan. Saya pikir siapa saja sepakat bahwa keimanan adalah ciri komitmen keagamaan. Keimanan bukan label, Keimanan bukan ragu. Jika ragu, maka kita hanyalah pendusta yang memaksa percaya pada Tuhan.[]

Related Articles