Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

22 Oktober 2016

Suatu Kepulangan

Pagi yang lindung, memulangkan kau dengan jemawa. 
Bahu tegap, kening mengkilat, senyum lebar.
Kau telah kembali Tuan, kembali bak pahlawan.
Berhasil meretas jalan setapak yang dulu hijau.
Kini, “pulang” adalah riwayat yang mesti ditempuh.
Sejak dulu, dendammu begitu hangat, sebab hinaan di dadamu senantiasa segar.
Jika diselidiki dari kilat keningmu, kusimpulkan segala pedih mesti dibeli, mulut yang pedas mesti dikerat. 

Demikian, pulang tidak melulu menghela kerinduan.
Ibumu bangga Tuan, karena mobil yang kau sewa kali ini sudah menciutkan mereka yang pongah.

Yogyakarta.

2 Agustus 2016

Lawan

Merpati tua menelan cacing.
Ia memberontak, melawan, tanpa sedikitpun memelas.
Aku hanya tak ingin matiku dalam kepasrahan, gumamnya lagi.
Merpati hanyalah hasrat, merpati hanyalah dengki.
Lalu aku, aku si kerdil ini bukanlah mangsa keserakahan.

Yogyakarta, 2 Agustus 2016

2 Juni 2016

Zammiluny

Ku terjaga dan kali ini ku muak.
Di luar hujan menyerbu keheningan, rintiknya mengalir di dingin tubuhku.
Hingga, gigil keparat ini pun tak mampu kutanggulangi.
Bagaimana resah bisa retak dalam sesaat?

Hujan? Jangan-jangan kau yang salah.
Kau benar-benar tak paham dengan suara yang terlipat.
Terlipat dalam derasmu.
Tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli.
Teriak pun belum tentu berguna.

Atau mungkin selimut lain.
Ya, selimut yang terbuat dari seribu satu beledu.
Bukan sarung tua lusuh yang kau tenteng kemana-mana.
Biar getir redam, biar dingin terselubungi.

Atau, atau, atau.
Ah, Apa guna kau membatin.
Jika salah bukan milik hujan dan selimut. 
Kau hanya butuh pelenyap. Pelenyap segala cemas.

Zammiluny, Zammiluny! Muhammad menyeru pada Khadijah.


Yogyakarta, 31 Mei 2016